Gaya 24 Jam

Dua Jejak

24 jam kita hidup. 24 jam kita bernapas. Apa 24 jam juga kita bekerja?

Kebanyakan orang sekarang, khususnya mahasiswa di lingkungan aku menjadwalkan kegiatan di malam hari. Di atas jam 6 misalnya, dan itu baru waktu berkumpulnya. Belum waktu mulai, apalagi selesai. Resikonya banyak yang kelelahan, kurang tidur, tugas yang tidak terkerjakan, dan sebagainya.

Bukankah kita disediakan 24 jam sehari yang terdiri dari siang dan malam untuk pembagian aktivitas kita? Siang untuk bekerja dan malam untuk istirahat. Tetapi kenyataannya, kita sering memakai waktu istirahat kita untuk bekerja. 24 jam itu bagaikan siang hari terus menerus.

Apa yang salah? Hal yang aku sering perhatikan saat ini adalah santai dan keleluasaan yang dirasakan begitu nyaman. Banyak di antara mereka yang sebenarnya tidak terlalu sibuk di siang hari atau memperpanjang jangka waktu yang mereka butuhkan untuk melakukan sesuatu. Padahal sebenarnya jika kita mau, pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan itu dapat diselesaikan sebelum matahari terbenam…

Lihat pos aslinya 359 kata lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s